Mungkin ini yang dinamakan roaster syndrome, saat menjelang tidur masih tetap sibuk memikirkan kombinasi waktu dan temperatur setelah sebelumnya merasa kurang puas dengan hasil roasting yang baru dilakukan. Andai saja suhunya dinaikan lagi mungkin hasilnya akan lebih baik, atau tadi mungkin terlalu lambat mengeluarkan kopi dari drum, sambil menilik lagi catatan durasi atau lamanya waktu roasting, dalam lembar kertas penuh berisi coretan yang hanya dipahami olehnya sendiri. Tapi untungnya saya masih belum pada taraf “sehebat” itu, karena masih menerapkan rumus sakti ATG (Asal Tidak Gosong) hasil pesantren kelas Tsanawiyah ke para Kyai masyhur dibidang Ulumul Masywi al-Qahwah atau ilmu goreng kopi. Alatnya cukup dengan mesin roasting tipe W600 dari pabrikan Wiliam Edison.


Bagi Anda yang baru membaca artikel ini, mesin roasting buatan Wiliam Edison, pria kelahiran kepulauan Riau ini sudah pernah saya terbitkan di sini Mesin Roasting seharga 7 jutaan. Saya tentunya gembira karena mengetahui bahwa mesin ini sudah menjadi pembuka pintu gerbang bagi siapa saja yang ingin mengawali aktivitas menggoreng kopi dengan menggunakan alat yang harganya cukup terjangkau. Beberapa rekan yang saya kenal sudah membeli mesin ini dan sejauh ini tak ada keluhan berarti.

Jadi di hari-hari belakangan ini saya sedang sibuk berkencan dengan W600, tipe mesin roasting yang berkapasitas 1 kilogram dan menggunakan gas sebagai sumber energi utama untuk memanaskan drum-nya. Sumbangan biji kopi mentah saya dapatkan dari beberapa rekan yang sudah berbaik hati “menyetor” biji kopi guna memberikan kesibukan kepada saya setiap pulang kerja di malam hari.


Rekan Arif Said yang sudah punya jam terbang tinggi dibidang ini pernah mengatakan kepada saya bahwa roasting itu sulit terutama masalah konsistensi. Saya tentu hanya bisa mengamini pendapatnya karena pada kenyataannya itulah salah satu masalah pelik yang sering dihadapi para roaster. Mungkin saja  pusingnya para roaster tersebut yang menyebabkan imsomsia karena sindrom tengah malam menjelang tidur tersebut. Tentunya taraf saya masih sangat jauh dibandingkan mereka yang sudah menganggap “log book” atau catatan roasting sebagai sumber informasi utama bagaikan hafalan kitab kuning di banyak pesantren.

Jadi sementara para roaster sibuk memecahkan masalah inkonsistensi,  biarlah saya sibuk belajar mempertajam pendengaran untuk bisa mendengar letupan kecil saat biji kopi mulai merekah serta menajamkan mata untuk melihat warna dari kehijauan hingga coklat.


Detail saat roasting dengan mesin ini tentu tak perlu saya ceritakan lagi karena tulisan sebelumnya cukup memberikan gambaran kinerja mesin 100% buatan dalam negeri  ini. Tapi, singkatnya, saat pemanasan hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit dengan api sedang untuk mencapai suhu 180 derajat Celsius sesuai indikator analognya. Setelah itu kopi saya tuangkan ke dalam funnel-nya sebanyak 500 gram dan melihat penurunan suhu yang hanya berkisar 20 derajat menjadi 160-an.


Selanjutnya duduk manis sambil sesekali memutar kenop gas agar suhu tetap konstan di 170 atau kadang dinaikan ke 180, hanya itu fluktuasinya. Walau terus terang tak paham apa akibatnya, yang penting turun naik layaknya mereka yang sudah biasa berada di depan mesin ini. Selebihnya komat kamit berdo’a tolak bala agar kopi saya tidak gosong sambil terus memeriksa perubahan warna di tuas sampel. Saat crack pertama biasanya terdengar suaranya walau agak samar, setelah itu adalah saat penantian letupan kecil kedua, sebuah tahapan yang sangat penting. Saat bunyi crack terdengar walau kadang tertutup oleh putaran drum, kopi langsung dikeluarkan (full city)  dengan kisaran waktu 19-21 menit dan langsung didinginkan di depan kipas angin sembari sesekali diayak ke atas dan bawah.

Kadang kopi langsung saya coba, tapi lebih banyak didiamkan dulu minimal 1 hari untuk melihat perubahan rasa dan aromanya. Ini cuma selera personal dimana hari ke-3 dan selanjutnya adalah saat puncak untuk menikmati hasil gorengan sendiri. Walau rasanya masih banyak kurang di sana sini, tapi selalu ada perasaan yang berbeda saat menikmati hasil gorengan kopi sendiri. Jadi saya bisa mahfum jika banyak roaster tetap setia dengan profesinya dan menyandang kebanggan saat orang lain mengapresiasi hasil roasting mereka.


Tulisan ini baru menyentuh sisi permukaan sebuah proses roasting yang variabelnya begitu banyak dan kompleks, dan tidak serta merta ingin mengajak Anda mulai mempelajari proses roasting. Tapi bila cukup tergoda, tak ada salahnya untuk mulai melirik opsi mesin roasting yang banyak beredar di pasaran yang harganya hingga ratusan juta rupiah. Tentu saja, ajaran Kyai Langitan untuk masalah roasting, Christian Heryanto dari Froco untuk memulai dengan wajan teflon ada baiknya dilakukan terlebih dahulu.

Untuk Wiliam Edison, saya terima bingkisan hadiah ulang tahun blog ini, dan rasanya terima kasih saja tak cukup. Tapi percayalah, bahwa orang seperti Anda bukan hanya sudah melakukan sebuah gebrakan di dunia kopi dengan memproduksi mesin yang harganya sangat kompetitif, tapi sekaligus mengirimkan pesan untuk mengajak siapa saja belajar menjadi roaster, baik untuk sebuah profesi yang masih jarang diminati, tapi sangat dibutuhkan, atau untuk para pecinta kopi pada umumnya yang ingin selalu menikmati fresh coffee.

*  *  *